Archive for April, 2008

Lembur itu Sucks!

Melengkapi working-habbit posting series di beberapa posting terakhir, saya pengen curhat masalah lembur. Yah, overtime adalah hal yang biasa di lingkungan kerja. Begitu biasanya sampai ada yg beranggapan kalau ngga overtime berarti ngga kerja. Saya juga termasuk dalam kategori overtimer. Yg artinya tukang lembur (dulu sih, beberapa tahun yg lalu), tetapi, setelah mendapat sedikit wejangan dari almarhum teman kos saya pas di Jkt, kebiasaan itu hilang.

Kata2 yg paling kuat saya ingat sampai sekarang adalah: "Hidup itu ngga cuman kerja"

He eh. Selain kerja kita juga perlu yg namanya kumpul ma keluarga atau teman2. Bermain atau melakukan kegiatan lain semacam arisan, ronda malem, kerja bakti, tahlilan, dll. Juga selain kegiatan, hidup itu juga ada yg namanya istirahat.

Mengapa Lembur itu Sucks?

Beberapa alasan yg bisa saya sebutin mengapa lembur itu Sucks!

  1. Hasil kerja saat lembur ngga akan lebih baik dari hasil kerja biasa. Bisa jadi malah banyak bugs dan errornya, yg akhirnya hrs dibenerin di lain waktu.
  2. Kerjaan kita akan nambah, karena dalam sehari, volume pekerjaan yg kita selesaikan akan bertambah dan yg namanya kerjaan ngga akan ada selesainya. Akhirnya load kita akan lebih banyak.
  3. Gaji anda akan menjadi lebih kecil. (bagi aja jam kerja dengan jumlah gaji)
  4. Membuat kita malas saat jam kerja reguler, secara selalu bisa diselesaikan overtime kan?
  5. Lupa teman, saudara, tetangga dan kondisi sekitar.

Itu sih alasan saya mengapa lembur itu sucks dan sebisa mungkin akan saya hindari. Mungkin anda punya tips untuk menghindari lembur, silahken di posting. Atau anda adalah pe-lembur sejati yang merasakan untungnya lembur, monggo juga.. saya open kok.

NB:
Ini bukan sindiran. Posting terakhir saya mengundang reaksi dari beberapa orang teman sehingga ga mau ngebuzz lagi. Padahal buzz nya yg ditunggu2 ;))

Thursday, April 10th, 2008 | Tags: Rants, Weblog | 6 Comments

Coding Environment

Bagi seorang programmer, produktifitas coding itu penting. Seberapa cepat dan benar kita mengerjakan sebuah task yg di assign. Dan produktifitas programmer itu — menurut saya nih, sangat bergantung dengan mood si programmer itu juga. Jadi klo ga mood ya ga bisa coding. Mo dipaksa sekuat apapun, hasilnya malah jeblok. Dan bagi saya, membangkitkan mood coding itu susah. Dari hasil pengamatan saya, saya itu mood nya untuk coding justru antara jam 21:00 - 02:00. Nah lo, sedangkan jam kerja saya antara 8:30 - 17:30. Jadi, membangun mood coding dipagi hari itu susah banget. Harus melalui beberapa ritual dulu semacam:

  • Boosting kafein
  • Bikin playlist yg cocok buat coding
  • Baca2 informasi yg penting

Baru setelah sekitar 1 jam pemanasan di depan leptop, mood coding akan muncul. Tetapi, alangkah sialnya, jika saat on-fire dengan keyword dan logic saya, sebuah msg muncul di YM saya. Trouble this, read that email, ada bug di sini, koneksi telco XXX lagi bermasalah. Thats one, kemudian selang beberapa menit, telpon masuk…. Ga diangkat salah, diangkat mood coding ilang. Serba salah… wasted 10 menit untuk mikir angkat atau ga. Tiung…. mood coding turun lagi. Felt clueless… noleh kanan, noleh kiri… lari kebelakang, rokok 1 batang…

Alangkah indahnya apabila ada jam2 tertentu dimana seorang programmer diperbolehkan untuk memprogram. Dan ada jam2 lain dimana dia harus debug aplikasinya. Dan ada jam2 lain dimana dia harus membantu untuk retrieve data yang sebenernya cuman series of SQL statement, dan ada jam2 lain dimana dia boleh mengangkat telpon. Tambah lagi: alangkah indahnya apabila seorang manajer menguasai sintaks SQL, jadi dia tidak perlu merepotkan programmernya untuk membuat sebuah laporan kecil, atau ada jam2 khusus dimana programmer tidak harus mereply email / membaca SMS / mengangkat telpon hanya untuk mendengarkan omongan masalah business prospect dan projection.

Monday, April 7th, 2008 | Tags: Rants, Weblog | 11 Comments

Kesalahan Saat Bekerja

Dalam bekerja, adalah biasa jika kita membuat kesalahan. Mungkin karena intensitas pekerjaan yang bertambah sehingga kita kurang teliti, mungkin karena kurang sehat, kurang mengerti instruksi, belum pernah mengerjakan dan environment yang kurang mendukung. Yang terpenting adalah cara kita menanganinya. Bisa saja kita melupakan dan melanjutkan dengan hidup kita, atau menyesali seumur hidup, atau melakukan review dan evaluasi setiap kesalahan sehingga ngga akan terjadi lagi di masa depan. Tapi jika emang terjadi lagi, so what, human do make mistakes ;)

Menurut saya, hal terbaik yang bisa kita lakukan saat kita membuat kesalahan adalah:

  • Mempunyai rencana untuk memperbaiki kesalahan. Recovery atau yang lainnya. Itu jika kesalahan bisa di recover.
  • Mengakui kesalahan. Kita ngomong aja langsung ke atasan kalau kita baru melakukan kesalahan, bla2 … dan kita punya plan untuk recover / ga punya.
  • Tidak menyalahkan orang lain atas kesalahan kita. Ini penting
  • Jangan lupa minta maaf.
  • Jangan ulangi lagi.

Ada juga tips bagi atasan yang mendapat laporan saat bawahannya melakukan kesalahan.

  • Stay cool, sebagai seorang atasan, tidak boleh gugup / bingung atau no-clue. Atasan harus tahu segalanya, walaupun dia tidak tahu apa2
  • Don’t ask stupid question. Menanyakan mengapa pegawai tersebut melakukan typo saat membuat dokumen presentasi adalah pertanyaan bodoh. No one really care why the shit happens, bagaimana menanganinya itu yang penting. Seorang manajer sejati harusnya ngerti itu.

Itu aja, kesamaan nama, tempat dan kondisi emang disengaja. Semoga berkenan

Thursday, April 3rd, 2008 | Tags: Rants, Weblog | 7 Comments